Kompaspolitik.com
Koran Digital Kekinian

Misteri 096: Sebuah Kesepakatan (Part 8)

0 11


Misteri 096: Sebuah Kesepakatan (Part 8)
Ilustrasi ruangan horor, dok: pixabay

“Vi, jelasin tolong, aku benar-benar tidak paham, rumah dengan nomor apa itu?,” tanyaku memelas dengan menatapnya.

“Bas, dengerin aku yah, aku cuman takut di antara benar dan salah. Apalagi ini berakaitan dengan kepercayaan saja apa yang akan aku kasih tau ke kamu,” ucap Silvi dengan perlahan.

Aku hanya mengangguk dan menungggu apa yang selanjutnya Silvi akan katakan saja.

“Salsa, Nenah dan aku semalam membahas rumah itu, dan Salsa (kakak kamu) percaya dengan apa yang aku katakan, apalagi apa yang aku katakan sesuai dengan yang Salsa alami, dan itu juga alasan aku tidak mau menginap di rumah kamu lagi malam kemarin. Yang awalnya akan menginap di rumah kamu, Salsa hanya mengiyahkan, tapi sama seperti kamu; asal tidak mengganggukan?, kenyataanya Bas, melihat temen kamu (Anton) itu, jelaskan,” ucap Silvi sambil melahap pesanan makanannya.

“Lalu apa kak Salsa pernah mengalami hal sama denganku?,” tanyaku.

“Iya, beberapa minggu lalu, sama dengan Anton, kak Salsa sangat penasaran dengan gerbang itu, ketika Salsa cerita; dia sedang memasak mie malam-malam di dapur, ketika Salsa liat ke arah pintu besi itu, di atas temboknya, terdapat wanita yang sedang duduk, berambut panjang, dan kakinya mengayunkan berkali-kali,” Jawab Silvi, perlahan.

“Tembok itu sangat tinggi Vi, aku saja harus sampai mengerahkan kepalaku ke atas untuk melihat jelas ke arah itu,” jawabku sambil kembali mengingat posisi rumah.

“Apa Aton melihat sosok wanita itu dari lubang antara celah pintu yang besar?, dan aku mendengarkan wanita menangis dari rumah itu apa dari tembok yang tembus pandang?, kan tidak Bastian,” ucap Silvi menjelaskan.

Memang benar apa yang dikatakan Silvi, sangat benar, semuanya di luar logika yang aku pikirkan semata.

“Aku tau, kamu sangat khawatir bukan dengan beberapa kejadiam yang sudah dialami kamu, dan Salsa apalagi sekarang temanmu dan aku juga sudah mengalami keanehan?. Pilihanya ada dua Bas, kita mengetahuinya untuk segera memperbaiki semuanya atau kita membiarkanya dan kejadian-kejadian lainya siap datang perlahan mengahampiri,” jawab Silvi dengan sangat tenang.

[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/qwertyping]

“Maksudnya kamu menakuti aku Vi?,” tanyaku sedikit nada tinggi.

“Bukan, karena Salsa yang menyuruhku menyampaikan hal ini, dan Salsa sudah bicara banyak soal ini, mang Yaya dan segala penasaran kamu, tapi Salsa tidak tega jika hal ini malah mengganggu ketenangan kedua orang tua kamu, apalagi nantinya soal kuliah begitu Bas,” Jawab Silvi.

Aku paham sekali, dengan apa yang diucapkan Silvi, “berarti kak Salsa juga merasakan dan melihat hal yang sama,” ucapku dalam hati.

“Soal rumah 096, aku mimpi Bas semalam, kak Salsa keluar dari rumah sebelah kamu, dengan pakaian yang sangat rapih, putih dengan celana rok yang sangat rapih juga berwana hitam, dalam keadaan hamil berjalanan dari rumah sebelah kamu, tapi ketika aku keluar dari rumah kamu, menyapa Salsa, dia tidak menjawab hanya mematung dengan menatap aku sambil menangis, kemudian, dia kembali berjalan, tidak tau kenapa aku berjalan ke depan rumah itu, lalu aku ingat betul, melihat nomor rumah 096 di belakang pohon beringin besar, pas di samping pintu," ucap Silvi menjelaskan.

Misteri 096: Sebuah Kesepakatan (Part 8) (1)
Ilustrasi kumpulan nomor, dok: pixabay

Aku mendengarkanya dengan jelas, semua yang Silvi ucapkan kaitanya sama dengan apa yang pernah aku ketahui. Hanya soal nomor rumah saja 096, beberapa kali pikiranku mengingat satu persatu apapun yang aku ingat, yang aku rasakan janggal.

“Kenapa jadi kamu yang melamun Bas?,” tanya Silvi.

“Vi nomor rumahku 097,” ucapku perlahan.

“Iya Salsa dan Nenah juga memberitauku, untuk memastikan saja mimpi itu, kejadianya sama dengan cerita kamu semalam Bas, sikap Salsa yang kamu liat dengan apa yang ada di dalam mimpiku, walaupun tidak sama percis tapi mirip gerak dan lainnya bukan?,” tanya Silvi.

“Iya benar juga Vi,” jawabku dengan keringat mulai turun.

Yang aku takutkan bukan apa-apa, hanya ketidakbaikan serta kedepanya tidak mau sampai pada orang tuaku saja. Apalagi kepercayaan dari kedua orang tuaku yang terpikirkan setelah obrolan ini.

“Tenang Bas, semuanya akan baik-baik saja, saranku dan liat saja nanti Salsa juga akan bicara sama dengan apa yang akan aku bicarakan sekarang; tanyakan pada mang Yaya sudah hanya itu saja, selanjutnya jika sudah, yah sudah saja anggap saja ini ada hal yang memang kalian harus terima apapun itu,” jawab Silvi sambil memegang tanganku.

Karena dari wajah serta cara duduku yang sudah tidak tenang, karena hal-hal yang belum terjadi apalagi, rumah itu benar secara cerita mimpi Silvi adalah rumah nomor 096.

Silvi tetap membuatku agar tenang, dan menjelaskan semuanya akan baik-baik saja, tapi Silvi juga khawatir yang sama denganku, takutnya terjadi hal-hal yang lainnya di luar apapun yang tidak aku harapkan, aku belum telepon sama sekali kak Salsa.

Selesai menghabiskan makan dengan Silvi segera aku mengantarnya untuk pulang, sepanjang perjalanan Silvi hanya bilang.

“Jangan sungkan Bas, kalau ada apa-apa di rumah langsung chat atau telepon aku aja,” aku hanya menjawab dengan beberapa anggukan kepala saja yang berarti setuju.

Sampai di rumah Silvi, segera aku sempatkan untuk telepon kak Salsa.

“Kak mau pulang bareng?,” ucapku di telepon.

“Kakak udah di rumah Bas, langsung pulang aja yah,” jawab kak Salsa singkat.

Segera aku berpamitan dengan Silvi, wajah cemasnya sangat jelas, kemudian tersenyum manis, dan tetap meyakinkan aku “bakalan baik-baik saja”.

Segera aku memacu si kukut untuk menuju rumah, dengan banyak sekali pikiran yang melintas di kepalaku. Beberapa pertanyaan yang ada masih belum tanpa jawaban. Tiba sampai sebelum rumah, aku berhenti tepat di depan rumah yang baru saja Silvi obrolkan lewat mimpinya itu.

Segera aku standarkan si kukut, tepat di depan gerbang besi rumah sebelahku ini. Perlahan aku berjalan, memperhatikan rumah yang sebelumnya belum pernah aku liat, sama tuanya bagunanan dengan rumahku.

“Sebelah mana yang di maksud Silvi?, tidak ada sama sekali pohon beringin,” ucapku dalam hati.

Aku ingat, dekat pintu ada nomor, Silvi mengucapkan hal itu, segera mataku mengarah kedua pintu yang lumayan besar itu, tidak ada sama sekali sebuah nomor rumah. Hanya saja aku melihat, seperti sebuah cat yang menimpa dengan ukuran kotak berwana abu-abu, sementara cat lainya berwarna putih, dan dari kejauhan seperti bekas lubang paku yang sudah tercopot. “apa itu bekas nomor rumah 096 itu,” ucapku dalam hati.

Misteri 096: Sebuah Kesepakatan (Part 8) (2)
Ilustrasi rumah tua, dok: pixabay

Namun hanya untuk sekedar memastikan aku segera menaiki lagi si kukut, maju melewati rumahku dan berhenti di rumah sebelahnya lagi, terpangpang jelas nomor 098.

“Iya benar mimpi Silvi itu,” ucapku dan kemudian kembali masuk ke halaman rumah.

Baru saja aku masuk, kak Salsa dengan santainya sore ini sedang duduk di depan, ketika aku memarkirkan si Kukut dia langsung menghampiriku, dan aku jelaskan sambil duduk di kursi depan aku sudah ketemu dengan Silvi dan Silvi bercerita banyak.

“Kakak percaya?,” tanyaku.

“Iya Bas, awalnya kakak mau tanya sama Ibu tapi takut kenapa-kenapa,” jawab kak Salsa.

“Jangan dulu, malam ini aku mau tanya sama mang Yaya,” ucapku perlahan.

Kak Salsa hanya mengangguk saja dan tentunya setuju, apalagi setelah aku ceritakan soal Anton yang sakit, setelah kejadian malam kemarin.

Akhirnya sore berganti dengan malam, tidak terasa, namun aku sepakat dengan kak Salsa dan berharap seperti apa yang Silvi katakan “semuanya akan baik-baik saja”.

Benar saja sehabis waktu solat Isya, mang Yaya terlihat sedang menyirami tamanan di halaman belakang, kemudian duduk di tempat biasa bersantai, segera aku hampiri.

Bersambung…





Source link

Leave A Reply

Your email address will not be published.