Kompaspolitik.com
Koran Digital Kekinian

PPKM Tak Efektif, Kembali ke PSBB April atau September Jakarta Bisa Jadi Solusi

0 4


PPKM Tak Efektif, Kembali ke PSBB April atau September Jakarta Bisa Jadi Solusi
Ilustrasi Jakarta akan kembali memberlakukan PSBB. Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO

Presiden Jokowi menilai penerapan PPKM Jawa-Bali tak efektif dalam menekan pertumbuhan COVID-19. Sebelum muncul aturan PPKM Jawa-Bali, Jakarta sejak April 2020 sudah melakukan pembatasan atau PSBB yang sampai hari ini masih terus diperpanjang.

PSBB di Jakarta dilakukan dengan dua model, yakni PSBB ketat dan PSBB transisi. Keduanya diputuskan sesuai dengan keadaan atau tren kasus di Jakarta. Sejauh ini, Jakarta sudah 3 kali melakukan PSBB ketat.

Pertama kali PSBB ketat dilakukan pada April 2020 lalu. Kemudian PSBB ketat kedua dilakukan pada September, dan kini PSBB ketat kembali diterapkan pada Januari 2021.

Selama penerapan PSBB ketat di Jakarta pada di 2020, tercatat tren kasus memang berhasil turun. Lalu bagaimana aturan dan tren kasus selama PSBB ketat?

PPKM Tak Efektif, Kembali ke PSBB April atau September Jakarta Bisa Jadi Solusi (1)
Foto udara Kali Besar Kota Tua yang sepi saat diberlakukan PSBB di Jakarta, Sabtu (18/4/2020). Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta

PSBB Ketat DKI Bulan April 2020

Penerapan PSBB pertama kali dilakukan pada 10 April yang diperpanjang hingga tiga kali sampai 4 Juni, sebelum akhirnya masuk ke masa transisi di 5 Juni 2020.

Pada PSBB awal ini, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membatasi aktivitas seluruh sektor di Jakarta, bahkan melakukan penutupan pada beberapa sektor.

Di PSBB ketat pertama Anies menutup seluruh sekolah di Jakarta dan menggantinya dengan sekolah daring. Waktu itu tempat hiburan juga ditutup seluruhnya mulai dari taman, balai pertemuan, RPTRA, gedung olahraga, hingga museum.

Pada PSBB ketat ini, restoran juga dilarang membuka layanan makan di tempat. Pelanggan hanya boleh melakukan layanan take away atau makan di rumah.

PPKM Tak Efektif, Kembali ke PSBB April atau September Jakarta Bisa Jadi Solusi (2)
Foto aerial kendaraan melintas di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Minggu (11/10/2020). Foto: GALIH PRADIPTA/ANTARA FOTO

Waktu itu resepsi pernikahan juga dilarang sepenuhnya. Para pengantin hanya boleh menikah di KUA tanpa ada pesta.

Kegiatan perkantoran di sektor non-esensial waktu itu juga diwajibkan untuk bekerja di rumah atau WFH. Hanya 8 sektor esensial seperti rumah sakit, sektor pangan, hingga komunikasi yang boleh berjalan.

Pada PSBB awal ini Anies juga mendorong cara belanja masyarakat dilakukan secara daring atau online. Sehingga tak ada interaksi di pasar.

Di masa PSBB ketat ini aturan juga jelas mengatur larangan berkumpul lebih dari 5 orang.

PPKM Tak Efektif, Kembali ke PSBB April atau September Jakarta Bisa Jadi Solusi (3)
Foto aerial suasana Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, di Jakarta, Kamis (28/1/2021). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO

Tren Kasus di PSBB Ketat Bulan April

Melihat perkembangan kasus di bulan April, penambahan kasus baru di Jakarta masih di bawah 100 orang per hari. Misalnya pada 25 April, penambahan kasus COVID-19 harian di Jakarta tercatat ada 76 orang. Total kasus di Jakarta saat itu masih 3.681 kasus.

Berlanjut ke bulan Mei, Pemprov DKI berhasil mempertahankan tren kasus harian di Jakarta di bawah 100. Salah satu contohnya di 21 Mei, penambahan kasus harian di Jakarta 70 kasus. Waktu itu total kasus di Jakarta masih 6.220 kasus.

Masuk ke bulan Juni, tren kasus harian corona di Jakarta juga tak naik signifikan. Pada 3 Juni 2020, atau 2 hari sebelum Jakarta masuk ke masa transisi, penambahan kasus harian Jakarta masih di bawah 100 kasus, yakni 80 kasus baru. Jumlah kasus COVID-19 di Jakarta waktu itu ada 7.539 kasus.

PPKM Tak Efektif, Kembali ke PSBB April atau September Jakarta Bisa Jadi Solusi (4)
Petugas Ambulans RSUD Kota Depok berdiri di depan ruang isolasi RSPI Sulianti Saroso, Jakarta, Selasa (3/3). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Pada PSBB ketat pertama ini, angka Reproduksi Efektif (Rt) di Jakarta hingga Rabu (3/6),sudah ada di angka 0,99.

"Apa yang terjadi? Turun drastis, ini dilakukan sebelum PSBB. PSBB pertama dimulai 10 April, tahap kedua, angka drastis turun Maret-April. Ini kerja bersama penduduk Jakarta," ungkap Anies dalam jumpa pers virtual, Kamis (4/6/2020).

"Alhamdulillah (Rt) Jakarta di akhir Mei, awal Juni turun. Lihat angkanya 18 Mei 1,09, bergerak (turun) terus sampai 1,03. 31 Mei angka kita 1, lalu 1 Juni 0,9, 3 Juni 0,9," imbuhnya.

PPKM Tak Efektif, Kembali ke PSBB April atau September Jakarta Bisa Jadi Solusi (5)
Personel Satpol PP menggelar Operasi Tertib Masker di kawasan Kota Tua, Jakarta, Minggu (27/9). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO

PSBB Ketat Bulan September 2020

Dalam penerapan PSBB ketat yang dimulai pada 14 September, pembatasan yang dilakukan hampir mirip. Misalnya perkantoran di luar sektor esensial wajib melakukan WFH.

Seluruh tempat hiburan juga kembali ditutup. Begitu juga layanan makan di tempat dilarang selama PSBB ketat.

Sekolah juga masih dilakukan secara daring. Resepsi pernikahan juga masih dilarang pada September lalu. Lalu bagaimana dengan kasusnya?

Jika melihat pergerakan data yang dilaporkan Pemprov, Anies berhasil menurunkan positivity rate selama PSBB ketat di bulan September lalu.

14 September:

– Penambahan kasus harian: 1.062 kasus

– Positivity rate mingguan: 15,7%

– Positivity rate akumulasi: 7,3%

15 September:

– Penambahan kasus harian: 1.027 kasus

– Positivity rate mingguan: 13,4%

– Positivity rate akumulasi: 7,4%

16 September:

– Penambahan kasus harian: 1.505 kasus

– Positivity rate mingguan: 13,8%

– Positivity rate akumulasi: 7,5%

17 September:

– Penambahan kasus harian: 1.014 kasus

– Positivity rate mingguan: 14,4%

– Positivity rate akumulasi: 7,5%

18 September:

– Penambahan kasus harian: 1.403 kasus

– Positivity rate mingguan: 14,4%

– Positivity rate akumulasi: 7,6%

19 September:

– Penambahan kasus harian: 932 kasus

– Positivity rate mingguan: 13,9%

– Positivity rate akumulasi: 7,6%

20 September:

– Penambahan kasus harian: 1.079 kasus

– Positivity rate mingguan: 13,2%

– Positivity rate akumulasi: 7,6%

21 September:

– Penambahan kasus harian: 1.310 kasus

– Positivity rate mingguan: 12,8%

– Positivity rate akumulasi: 7,7%

22 September:

– Penambahan kasus harian: 1.122 kasus

– Positivity rate mingguan: 12,5%

– Positivity rate akumulasi: 7,7%

23 September:

– Penambahan kasus harian: 1.187 kasus

– Positivity rate mingguan: 12%

– Positivity rate akumulasi: 7,8%

24 September:

– Penambahan kasus harian: 1.133 kasus

– Positivity rate mingguan: 11,8%

– Positivity rate akumulasi: 7,8%

25 September:

– Penambahan kasus harian: 1.289 kasus

– Positivity rate mingguan: 10,9%

– Positivity rate akumulasi: 7,8%

26 September:

– Penambahan kasus harian: 1.257 kasus

– Positivity rate mingguan: 10,9%

– Positivity rate akumulasi: 7,8%

27 September:

– Penambahan kasus harian: 1.186 kasus

– Positivity rate mingguan: 11,1%

– Positivity rate akumulasi: 7,9%

28 September:

– Penambahan kasus harian: 807 kasus

– Positivity rate mingguan: 11%

– Positivity rate akumulasi: 7,9%

29 September:

– Penambahan kasus harian: 1.132 kasus

– Positivity rate mingguan: 10,0%

– Positivity rate akumulasi: 7,9%

30 September:

– Penambahan kasus harian: 1.059 kasus

– Positivity rate mingguan: 10,3%

– Positivity rate akumulasi: 7,9%

1 Oktober

– Penambahan kasus harian: 1.153 kasus

– Positivity rate mingguan: 11,7%

– Positivity rate akumulasi: 8,0%

2 Oktober

– Penambahan kasus harian: 1.098 kasus

– Positivity rate mingguan: 13,0%

– Positivity rate akumulasi: 8,15

3 Oktober

– Penambahan kasus harian: 1.165 kasus

– Positivity rate mingguan: 13,4%

– Positivity rate akumulasi: 8,1%

4 Oktober

– Penambahan kasus harian: 1.403 kasus

– Positivity rate mingguan: 13,7%

– Positivity rate akumulasi: 8,2%

5 Oktober

– Penambahan kasus harian: 822 kasus

– Positivity rate mingguan: 11,3%

– Positivity rate akumulasi: 8,05

6 Oktober

– Penambahan kasus harian: 1.007 kasus

– Positivity rate mingguan: 11,35

– Positivity rate akumulasi: 8,05

7 Oktober

– Penambahan kasus harian: 1.340 kasus

– Positivity rate mingguan: 12,2%

– Positivity rate akumulasi: 8,1%

8 Oktober

– Penambahan kasus harian: 1.009 kasus

– Positivity rate mingguan: 11,3%

– Positivity rate akumulasi: 8,1%

9 Oktober

– Penambahan kasus harian: 972 kasus

– Positivity rate mingguan: 10,9%

– Positivity rate akumulasi: 8,1%

10 Oktober

– Penambahan kasus harian: 1.253 kasus

– Positivity rate mingguan: 11,1%

– Positivity rate akumulasi: 8,1%

PPKM Tak Efektif, Kembali ke PSBB April atau September Jakarta Bisa Jadi Solusi (6)
Masyarakat menggunakan masker saat berjalan melintasi terowongan Kendal, Jakarta, Selasa (26/1). Foto: Wahyu Putro A/Antara Foto

PSBB Ketat Bulan Januari 2021

Berbeda dengan penerapan PSBB ketat sebelumnya, di penerapan PSBB ketat Januari 2021 ini terlihat lebih longgar. Sebab, aturan mengikuti kebijakan PPKM yang ditetapkan pemerintah pusat.

Contohnya jika dalam PSBB ketat sebelumnya kantor di sektor non-esensial wajib melakukan WFH, sekarang kantor non-esensial boleh bekerja di kantor dengan batasan 25% maksimal kapasitas.

Di penerapan PSBB ketat ini restoran juga diizinkan untuk membuka layanan makan di tempat atau dine-in meski dibatasi hanya sampai pukul 19.00 WIB dan kini 20.00 WIB. Padahal di PSBB ketat sebelumnya layanan dine-in ditutup total di Jakarta.

Kemudian bagaimana dengan tren kasusnya? Dua pekan penerapan PSBB ketat Januari yang bersama dengan PPKM Jawa-Bali, kasus di Jakarta cenderung naik. Mulai dari penambahan harian, kasus aktif, hingga positivity rate.

Berikut pergerakan kasus corona di Jakarta pada PSBB ketat dan PPKM 11-25 Januari: 

11 Januari

Kasus harian: 2.461 kasus

Kasus aktif: 17.946 kasus

Positivity rate mingguan: 13,4%

12 Januari

Kasus harian: 2.669 kasus

Kasus aktif: 18.988 kasus

Positivity rate mingguan: 13,7%

13 Januari

Kasus harian: 3.476kasus

Kasus aktif: 19.459 kasus

Positivity rate mingguan: 15,1%

14 Januari

Kasus harian: 3.165 kasus

Kasus aktif: 20.499 kasus

Positivity rate mingguan: 16,4%

15 Januari

Kasus harian: 2.541 kasus

Kasus aktif: 20.800 kasus

Positivity rate mingguan: 16,9%

16 Januari

Kasus harian: 3.536 kasus

Kasus aktif: 22.089 kasus

Positivity rate mingguan: 18,5%

17 Januari

Kasus harian: 3.395 kasus

Kasus aktif: 21.679 kasus

Positivity rate mingguan: 18,9%

18 Januari

Kasus harian: 2.361 kasus

Kasus aktif: 21.200 kasus

Positivity rate mingguan: 17,9%

19 Januari

Kasus harian: 2.563 kasus

Kasus aktif: 19.215 kasus

Positivity rate mingguan: 16,4%

20 Januari

Kasus harian: 3.786  kasus

Kasus aktif: 21.224 kasus

Positivity rate mingguan: 16,7%

21 Januari

Kasus harian: 3.151 kasus

Kasus aktif: 21.756 kasus

Positivity rate mingguan: 16,9%

22 Januari

Kasus harian: 3.792 kasus

Kasus aktif: 23.359 kasus

Positivity rate mingguan: 16,2%

23 Januari

Kasus harian: 3.285 kasus

Kasus aktif: 23.036 kasus

Positivity rate mingguan: 15,6%

24 Januari

Kasus harian: 3.512 kasus

Kasus aktif: 24.224 kasus

Positivity rate mingguan: 16,5%



Source link

Leave A Reply

Your email address will not be published.